APAKAH nilai cadangan emas sebuah perusahaan tambang bisa melampaui nilai akuisisi yang direncanakan?
Inilah teka-teki yang kini menyita perhatian pelaku industri pertambangan dan investor di Tanah Air.
Wolfram Limited, perusahaan tambang asal Australia yang tengah diakuisisi oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI), menyimpan cadangan emas eksisting di dua area tambang—Crush Creek dan Mount Carlton di Queensland.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Crush Creek tercatat Mineral Resource Estimate (MRE) sebesar 2,63 metrik ton dengan kadar emas setara 2,33 gram per ton, menghasilkan estimasi cadangan sebesar 197 ribu ons per 4 April 2023.
Sementara di Mount Carlton, MRE sebesar 10,5 metrik ton dengan kadar 1,39 g/t, menghasilkan 470 ribu ons emas.
Dengan harga emas spot US$ 3.337,62 per ons pada 19 Agustus 2025 dan kurs Rp 16.206/US$, nilai total cadangan Wolfram mencapai US$ 2,26 miliar atau sekitar Rp 36,08 triliun .
Baca Juga:
Kontras Nilai Akuisisi: Sejauh Mana Selisihnya?
Menariknya, BUMI mengajukan tawaran akuisisi seluruh saham Wolfram senilai AU$ 0,5 per lembar, dengan jumlah saham beredar mencapai 126,98 juta lembar.
Nilai total akuisisi sekitar AU$ 63,49 juta atau senilai Rp 669,25 miliar, berdasarkan kurs AU$1 setara Rp 10.540,53.
Per 14 Agustus 2025, BUMI telah menguasai 32,54% saham Wolfram melalui Bumi Resources Australia Pty Ltd .
Modal Segar untuk Akuisisi: Obligasi BUMI
Dalam upaya membiayai akuisisi tersebut, BUMI merencanakan penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I/2025 senilai Rp 721,6 miliar. Obligasi ini terdiri atas dua seri:
Baca Juga:
Lonjakan Nilai Belanja Pasca-Lomba Maraton di Sanya Cerminkan Kebangkitan Tren “Racecation”
Seri A sebesar Rp 149,33 miliar (tenor 3 tahun, bunga 8%) dan Seri B sebesar Rp 572,28 miliar (tenor 5 tahun, bunga 9,25%).
Sebagian besar dana—sekitar 45,34%—dialokasikan untuk pembayaran utang tahap awal terkait proses akuisisi Wolfram.
Sisanya sebagian digunakan sebagai fasilitas pinjaman kepada Wolfram dan modal kerja perusahaan.
Sebelumnya, BUMI telah menyatakan bahwa akuisisi ini merupakan bagian dari diversifikasi ke sektor hilirisasi dan mineral kritis.
Berharap Wolfram dapat menghasilkan emas dan tembaga dalam waktu relatif singkat setelah persepakatan awal ditandatangani .
Menimbang Signifikansi dan Risiko Transaksi
Langkah ini menegaskan ambisi BUMI untuk memperluas jangkauan dari tambang batu bara ke sektor mineral bernilai tambah tinggi.
Baca Juga:
Rokid dan Ant International Umumkan Integrasi Fitur Pembayaran Kacamata Pintar
Astronergy Luncurkan ASTRO N7 Pro dengan Performa Berstandar Profesional
Hisense Luncurkan 116UXS and XR10, RGB MiniLED Menuju Era Baru di CES 2026
Potensi cadangan emas Wolfram yang menembus Rp 36 triliun jelas memicu pertanyaan: apakah akuisisi dengan harga Rp 669 miliar terlalu rendah?
Dalam perspektif investor, margin selisih tersebut bisa menjadi potensi nilai tersendiri, namun juga menuntut reputasi kredibilitas, regulasi, dan kemampuan operasional untuk merealisasi eksplorasi dan produksi.
Menurut pernyataan resmi BUMI, “Akuisisi Wolfram Limited dinilai sebagai langkah strategis yang sejalan dengan rencana perusahaan untuk mengembangkan aset hilirisasi bernilai tinggi,” kata manajemen BUMI.
Hal ini didukung pula oleh data bahwa BUMI telah mengantongi laba bersih sebesar US$ 17,8 juta di kuartal pertama 2025.
Menurun 73,6 % dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, namun pendapatannya tetap meningkat menjadi US$ 348,7 juta .
Dalam laporan lain, disebutkan bahwa crowdfunding melalui penerbitan obligasi dilakukan dalam rangka memastikan dana mencukupi untuk selesainya akuisisi Wolfram.
Dengan alokasi dana sebagian besar digunakan untuk pelunasan hutang dan penguatan modal kerja maupun fasilitas pinjaman ke Wolfram.
Terlihat bahwa transaksi ini tidak hanya soal jumlah saham, tetapi skema pendanaan dan struktur modal menjadi kunci penggerak keputusan BUMI.
Refleksi dan Tantangan Masa Depan
Akuisisi ini dapat membuka peluang transformasi portofolio BUMI ke sektor emas dan tembaga, sekaligus menambah akses pada cadangan mineral kritis di Australia.
Namun keberlanjutan proyek tergantung pada sejumlah faktor penting: persetujuan regulator Australia (Foreign Investment Review Board), proses eksplorasi dan pengembangan tambang, serta fluktuasi harga logam global.
Risiko juga mencakup potensi overvaluasi aset jika cadangan tidak terkonfirmasi atau tidak ekonomis untuk dieksploitasi.
BUMI perlu memastikan proses akuisisi berjalan transparan dan memperoleh persetujuan penuh, agar ekspektasi nilai Rp 36 triliun bisa berujung pada realisasi produksi yang berkelanjutan.
Yang jelas, selisih mencolok antara nilai cadangan emas dan harga akuisisi menimbulkan rasa penasaran sekaligus kewaspadaan—apakah ini kesempatan besar atau jebakan investasi.
Waktu dan realisasi di lapangan akan menjadi pembuktinya.****

















